Tampilkan postingan dengan label Bacotan. Tampilkan semua postingan

Ikan badut kecil


.

Untuk Langit yang damai.
Hai Langit, apa aku membuatmu khawatir? aku tidak apa-apa kok :)
Kau tahu, aku sudah genap tujuh belas tahun bernafas. Tujuh belas tahun merupakan titik balik dari sifat labil remaja menuju ke sifat dewasa. Aku sudah memikirkan ini.
Aku memikirkan tentang ikan. aku ini lebih bodoh dari ikan badut yang bodoh Ngit. Sebodoh-bodohnya ikan, dia akan melepaskan kail umpan jika si pemancing tidak kunjung menariknya. nah, aku manusia Ngit, aku seharusnya sudah menyadari itu sejak lama ya, tapi aku malah menikmati terombang ambing bersama kail yang umpannya sudah ku makan tapi si pemancing tidak menariknya.
Hahhh.. Tapi sekarang aku paham Ngit, percuma saja jika aku tetap mempertahankan berada di kail itu, padahal umpannya sudah tak ada. pemancingnya pun tidak mau menangkapnya. Lebih baik, aku melepaskan aku melepaskan kail itu sekarang. toh, bila suatu hari si pemancing datang lagi dan memasang umpan, aku juga akan tetap mendekat (seperti layaknya seekor ikan). dan aku akan menunggu pemancing menariknya.
Dari aku, yang kadang menjadi ikan badut kecil.

Tujuh Belas


.

Ini hari pertama, iya. hari pertamaku dengan embel-embel orang dewasa, he-he.. aku sudah tujuh belas tahun. Memang, terhitung dari kemarin, 21 Februari 2012. tapi, sebenarnya aku lahir pada sekitar pukul 9 malam, jadi menurutku, ini hari pertamaku sebagai anak yang sudah pantas dibilang dewasa.
Tidak ada yang spesial untuk tahun ini kecuali aku sudah bisa buat KTP :D. Emmm, telur yang mendarat dikepala seperti biasa, dan tekanan minta traktirdari teman-teman. Hee, aku bokek lhoooo :( kapan-kapan saja ya..
Terimakasih untuk orang-orang yang sudah memberi selamat. Untuk Ibuk yang selalu ingat. Untuk Rama yang bahkan jauh-jauh hari sudah mengirimkan do'a. Untuk Atma yang menjadi orang pertama (tanggal 21), untuk Cacing alias Caca yang sebenarnya pengen jadi yang terakhir ditanggal 21 tapi malah ketiduran, untuk Langit yang hari ini cerah.
Untuk beferly dkk makasih telurnya. Yeni makasih udah disuruh jalan dari masjid ke rumah -_-
Terimakasih semua :)
Terutama Allah yang masih memberiku hidup :*

Langit


.

Ah, ternyata aku salah faham ya. Tapi aku terlanjur jatuh padamu. Andai kau tidak memberi tahuku bagaimana cara untuk men-cemburu-i, mengajariku untuk memahami, membuatku merindu setiap hari, dan menyuguhkan arti dari kata 'cinta' yang selama ini tidak kumengerti, aku tidak akan begini.
Bukan. Aku tidak sedang menyalahkanmu. Aku hanya merutuki diriku sendiri karela terlalu naif. Terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa kau juga merasakan hal yang sama denganku.
Pantas saja, belakangan ini kau tidak Damai. Padahal yang ku kira Damai-mu (aku) masih baik-baik saja. (Maaf bila lancang menobatkan diriku sendiri sebagai Damai-mu, aku tidak tahu kalau kau tidak menghendakinya). Tapi pada kenyataannya, kau tertutupi oleh awan hitam yang menggumpal, nampak suram. Dari situ aku mengerti, Damai-mu bukan aku.
Aku juga ingin bersembunyi dibalik mendung, sepertimu. Dan mungkin kemudian, aku akan menemukanmu, mungkin.
Merindukanmu dengan ke-damai-an. Aku tidak tahu siapa yang menjadi Damai-mu, Langit. Meskipun itu bukan aku, tapi ku harap kau cepat menemukannya kembali.
Dari aku (seseorang yang sebelumnya menyebut diri sendiri sebagai Damai-mu) yang merindukanmu (Langit) penuh ke-damai-an (siapapun yang pada akhirnya kau nobatkan sebagai Damai-mu).

Hai (lagi)


.

Haiiiiiii :)

Banyak sekali catatan yang sudah terlewat, yang seharusnya bisa ku ceritakan disini.

Hei, sore ini ada cewek yang bercerita padaku tentang perasaannya terhadap sesorang. Dan, kau tahu siapa orang yang dia maksud? Hah, orang yang sama yang sampai sekarang masih sering ku amati dari kejauhan. Seseorang yang masih kukagumi.
Ya, cukup sekian dan terimakasih untuk telah membaca cerita tidak pentingku tentang hal ini.

Beralih ke topik lain. semakin hari, aku semakin tertekan. Semakin banyak pula pihak yang menekan. Pensi oh pensi, kenapa kamu selalu menjadi hal yang paling diperhatikan oleh orang-orang? :(
Menjadi ketua panitia pensi tahun ini membuatku habis. Hem, ditambah lagi kepala sekolah yang tidak mendukung. "Yaaaaa, Semangaaaaaaaaaaaat ! Fighting :D"
Cuma bisa menguatkan diri sendiri dengan cara seperti itu.
Oh iya, besok sabtu ada proker baru yang akan dijalankan oleh Osis mpk smadabo: Putri Hijab.
Semoga lancar :)

(tentang) kamu (lagi)


.

Kemarin malam, seseorang menanyakanmu. Mungkinkah dia tahu sesuatu tentangmu? mungkin saja. Apa dia tahu siapa kamu? Tulisanku terlalu frontal ya, he-he. Tapi kenapa tidak menebak siapa kamu ya? Hem,, ini menbuatku mengingatmu lagi, memikirkanmu.
Untuk meneruskan tulisan ini, aku sempat berhenti beberapa menit, cukup lama. Aku bingung dengan apa yang kuceritakan. Sebenarnya aku hanya ingin tahu:

Sedikit banyak faham- maksudnya apa?

Aku (tidak) takut kucing


.

Sekarang aku sedang bersama dengan M. Beferli Argajuna Dede Arta Pratama. Ha-ha, namanya puanjang ya? :p
Kami sedang asyik menikmati wifi gratis yang disediakan oleh pemerintah disekitar pendopo kota Bojonegoro. Tiba-tiba Dewi Murthosiyah datang meramaikan, kalau yang ini aku senang karena ada teman lain. Tapi setelah itu, datang sesuatu, sebuah, oh tidak, seekor; KUCING! Aaaaaaku benci kucing! Aku hanya mampu berteriak histeris, beberapa masang mata melirik, sebagian menertawakan. Be-ep, panggilan akrab untuk Beferli, dan dewi sedang membawa kucing itu mendekatiku, haaaaaaaaaaah, jauhkan dariku!
Sebenarnya, aku tidak takut kucing. Ya, aku tahu kucing itu lucu. Tapi aku takut dicakar! Kalau dari jauh, aku juga suka memperhatikan kucing. Nah, kalau dari dekat, aku angkat tangan. Jangan dekatkan kucing itu padaku.
Aku (tidak) takut kucing.

(Tidak ingin memberi judul)


.



18 Desember 2012
Maaf, beberapa hari terakhir aku terlalu sibuk untuk berbagi cerita padamu. Padahal banyak sekali yang ingin kuceritakan.
Hari minggu kemarin, aku kejuhanan. Dingin sekali. Tapi aku menikmatinya, seperti kembali ke masa kecil. Kadang aku suka hujan, meski aku lebih sering tidak suka. Hujan itu, tidak selamanya indah. Petir seringkali mengiringinya. Aku tidak suka petir, aku tidak suka hujan dengan petir, menakutkan. Karena itu lah, aku lebih suka gerimis. Gerimis itu melankolis, cenderung romantis.  Meski kadang memberi efek galau yang luar biasa, karena itu mengingatkanku pada sesuatu. He-he. Hem, mendung sedang menggantung. Pertanyaanku, mendung itu apa pertanda akan hujan? Menurutmu bagaimana? Kalau aku, tidak selamanya mendung itu pertanda hujan. Tapi ada beberapa orang yang meng-identikkan mendung dengan hujan. Emm, menurutku, satu hal yang identik dengan hujan dan gerimis; aroma tanah basah.
Aku tidak sengaja membiarkan tubuhku basah oleh hujan, saat itu aku sedang menyaksikan festival band yang diadakan oleh Polantas, salah satu band dari sekolahku ikut dalam festival ini. Blank On Band. Band yang memiliki lima personil (Rizka, Gilang, Priya, Hafidz, dan Wisnu) ini berhasil menyabet juara 3 pada hari itu. Best supporter juga! Ya, meskipun mereka harus tampil dengan seorang vokalis pengganti, karena  saat itu Rizka baru saja kecelakaan. Cepat sembuh Rizka. Good job Blank On, selamat ^^
Tapi aku mangkel dengan tanggapan kepala sekolahku. Gak ngajeni perjuangan sama sekali. Menurutku, itu sudah bagus, sebuah prestasi, tapi malah dicela. Memangnya beliau yakin bisa seperti mereka? Aku semakin gelo karena ini berimbas pada event yang akan dilaksanakan pada hari kamis besok. Gala Band, festival band intern Smada, itu progam kerjaku, dan sekarang menjadi sasaran, huh -_-. Anggaran dana dipotong, best guitarist, best drummer, dan best-best lainnya ditiadakan. Menghabis-habiskan uang katanya. Wong festival kalah gitu kok mau buat acara kayak gini!, begitu mudahnya beliau menjatuhkan mental kami. Padahal yang sebenarnya ingin kami kembangkan adalah bakat anak-anak yang memiliki talenta dimusik tersebut. Tapi kenapa malah dilarang? Huh.
Pak, tolong hargai kami sedikit saja. Jika memang tidak bisa menghargai kami, tolong, hargailah seni :')

Dewasalah sedikit!


.

Malam ini, seperti biasa aku terbangun pukul 12 lewat entah berapa menit. Ini sudah menjadi kebiasaan. Biasanya, setelah minum beberapa teguk air aku akn kembali tidur, tapi sekarang, aku kesulitan tidur. Terlalu banyak pikiran mungkin.
Aku membuka Hp, barang kali ada pesan. Benar saja, beberapa pesan mencuat dilayarnya. Dua diantaranya dari teman seperjuanganku, Juna. Linnn tangiii linn. Begitu isi pesannya. Aku sudah tahu, ini pasti tidak penting. Dia sering seperti ini. Tapi malam ini berbeda, Tadi, aku benar-benar marah padanya, kau tahu, tenatng postinganku mengenai professionalitas itu. Itu khusus kudedikasikan untuknya. Aku sebal melihat tingkahnya yang kekanakan. Dia sempat mengirimkan pesan yang berisi tentang permintaan maaf, tapi tidak ku gubris. Dia juga mengirimiku pesan yang isinya: Lin, yang itu tadi kepribadianku yang satunya. Memangnya, dia itu apa sampai punya banyak kepribadian, pikirku. Semua pesannya hanya ku baca, tidak ku balas. Kecuali yang terakhir ini, yang isinya memintaku untuk bangun. Kubalas: Opo?. Dia bilang: Hehe, kancani to, ojo ngamuk ya?. Dia memintaku untuk tidak marah, dan aku menurutinya. Aku tahu, dia masih seperti anak kecil, dan aku harus selalu bersikap sabar seperti kakaknya. Kadang menyebalkan, tapi mau bagaimama lagi, memang begitu sifatnya. Obrolan kami masih berlanjut sampai sekarang. Dan dia bercerita tentang film kesukaannya: Twiligh, yang setiap hari rutin ia tonton sebelum tidur. Dasar bocah aneh, kenapa tidak bosan-bosan ya. Aku seperti menanggapi ocehan-ocehan seorang adik kecil haha :p
Jun, dewasa lah sedikit :) ~Untuk kepribadian lain dalam diri Juna.

Profesionalitas


.

15 Desember 2012

Kali ini aku benar-benar muak.
Aku sudah terlalu banyak diprotes. Semua menekan. Tuntutan datang dari berbagai sudut. Lelah terlalu mendominasi. Aku mencoba percaya pada orang lain agar bisa membantuku. Kesempatan untuk menunjukkan bahwa dia profesional. Aku salah, jika aku terlalu mendominasi. Tapi bagaimana bila yang dipercayai tidak bisa mengerti? Egois, kekanakan.
Aku lelah.

KAMU


.



Aku tidak tahu, harus bagaimana mendiskripsikanmu. Aku bingung harus memulai dari mana. Sebenarnya, sudah banyak tulisan yang kubuat tentangmu, atau yang terinspirasi darimu. Meskipun begitu, aku tidak bosan memadati kertas dengan ceritamu. Tapi, entah mengapa untuk mengawalinya selalu sulit. Mungkin, karena terlalu banyak kata yang dapat menggambarkan kamu. Terlalu banyak hal yang ingin ku tulis tentangmu, sehingga aku justru bingung harus menulis yang mana terlebih dahulu. Aku suka menggerak-geraknya jariku berjam-jam, demi mengetik semua tentang kamu. Kadang, bila aku terlalu sibuk, aku akan menyentuh beberapa huruf pada tuts keyboard yang membentuk namamu, atau nama lain yang menginisialkan kamu, hanya untuk mengobati rinduku.
                Tak jarang aku merasa kamu keterlaluan. Kamu yang menempati urutan pertama di daftar orang yang kupikirkan. Selalu begitu. Sering kali aku berpikir untuk menyibukkan diri dengan hal lain yang lebih penting. Tapi apa pun yang ku lakukan selalu dapat mengingatkanku padamu. Mendung, gerimis, bahkan hujan, satu kesatuan yang turut menyumbang ingatan tentangmu. Kamu tahu, aku benci hujan. Hujan kadang menakutkan, tapi tidak dengan gerimis. Gerimis lebih manis, dimana aku pernah merasakan momen romantic bersamamu. Meskipun aku tidak yakin kamu menganggap itu romantic, setidaknya aku menganggap begitu. Komik, pensil, bahkan kursi taman pun menyisakan kenangan tentangmu. Semua seolah menyatakan dukungannya padamu untuk membuatku terus berada dalam dunia khayalku tentangmu. Keterlaluan.
                Sebegitu fanatiknya aku padamu, hingga aku lupa bahwa kita baru satu setengah tahun saling mengenal. Satu tahun lalu, diam-diam aku mulai memperhatikanmu. Diam-diam mengagumi, dan diam-diam menyimpan rasa. Sampai sekarang, rasa itu masih ada. Aku pernah putus asa karena sikapmu. Aku menyerah. Sempat keluar dari dunia khayalku, tidak mau terperangkap lagi. Beberapa bulan bersama orang lain tidak lantas membuatku berhenti berhubungan denganmu. Entah sudah berapa bulan belakangan ini, kita dipermukan dalam sebuah tanggung jawab. Mungkin inilah yang disebut takdir. Aku sudah menghindar, aku sudak berpaling. Tapi pada akhirnya, aku kembali lagi padamu. Aku kembali membangun dunia khayalku yang baru tentangmu, dan ini tidak seburuk dulu.
                Aku mulai tenggelam lagi dalam dunia khayalku. Aku mulai menulis lagi tentangmu. Sedikit dari tulisanku telah kamu baca. Tapi aku yakin kamu tidak tahu kalau yang ada dalam tulisan itu kamu. Semakin hari, semakin banyak yang dapat ku temukan darimu. Semakin banyak yang mengingatkanku padamu. Semua berarti. Ini semakin membaik. Hubungan kita semakin membaik. Aku tahu, kamu menganggapku teman biasa, tentu saja. Tapi sebenarnya aku berharap lebih meskipun aku tahu itu tidak mungkin. Sebut saja aku bodoh, aku memang bodoh terlalu mengharapkanmu.
                Pernah suatu hari, kamu yang tertutup menjadi sedikit terbuka padaku. Kamu bercerita tentang seseorang yang kamu cintai. Saat itu, aku hanya bisa menarik kedua pipiku untuk bisa menyerupai sebuah senyuman yang sebenarnya tidak dapat disebut sebagai senyuman. Kamu meminta saran, ku sarankan untuk berhenti menunggunya. Aku tidak memberikan saran itu karena aku menyukaimu dan aku cemburu. Bukan kerana aku ingin merusak cintamu padanya sehingga aku lebih mudah mendapatkanmu. Tapi, kamu sudah terlalu lama menuggunya. Terlihat jelas bahwa kamu lelah. Nantinya mungkin aku juga akan lelah menunggu seperti kamu. Lelah menunggu kamu.
                Kamu memintaku bercerita. Sama, aku menceritakan tentang seseorang yang aku cintai. Lalu tawa nyaring terlontar dari kita berdua, menertawakan nasip yang sama. Tanpa kamu ketahui bahwa dia yang aku ceritakan itu kamu. Aku semakin sering bercerita padamu tentang dia. Andai kamu tahu bahwa yang kuceritakan itu kamu ya.
                Ha-ha, ternyata tulisan ini penuh dengan kata kamu, tentangmu, padamu, dan banyak kata ber-imbuhan mu-mu lainnya. Apa ini membosankan. Bila kamu yang membacanya, mungkin kamu akan bosan. Yang ku tulis terlalu klise. Iya kan? Tapi beginilah hidupku satu tahun belakangan. Panuh dengan kamu. Sempat merasa ingin bosan, tapi tidak mampu. Aku tidak pernah bosan. Aku cinta apa pun tentangmu. Aku pemuja rahasiamu.
                Aku hanya bisa berharap. Aku sering menertawakan diriku sendiri. Tentu saja karena kamu. Hampir gila karenamu. Terlalu sering memikirkanmu membuatku merasa sedikit bodoh. Aku tahu, ini seperti menonton film yang sudah pernah ditonton sebelumnya. Kita sudah tahu endingnya seperti apa. Dan ending dari kisahku denganmu adalah sad ending. Aku tahu itu. Tapi kenapa kau tetap menyimpan rasa ini?
                Mencintaimu adalah rasa pahit yang pada akhirnya harus kunikmati. Marindukanmu memberi sensasi sakit yang selalu kunantikan. :’)
                Mr. X

Kimia? Sebisanya aja. Trigonometri? Mati


.



Kami, siswa kelas XI IPA 1 merasa seperti murid-murid yang dikhususkan dalam hal pembelajaran kimia.  Bagaimana tidak, kelas lain memiliki seorang guru imut bernama Pak Heli :p sedangkan kelasku memiliki seorang guru yang juga imut sebenarnya, bernama bu Erni. Kesamaaan mereka terletak pada keimutan dan mata pelajaran yang diajarkan. Sedangkan cara mengajarnya, jangan ditanya, sangat berbeda. Pak Heli adalah guru yang mengutamakan teori, begitu menurut siswa kelas Ipa lain. Tidak begitu galak, sepertinya. Lalu bagaimana dengan Bu Erni? Diluar semua keburukannya, beliau adalah guru yang menurutku pribadi peduli dengan siswa. Beliau selalu menuntut siswanya untuk bisa. Bukan hanya teori, tapi juga praktek. Setiap kali ulangan, kami akan selalu disodori soal pilihan ganda. He, jangan dianggap remeh, soal ini memang soal pilihan ganda, tapi harus dikerjakan dengan metode soal uraian atau diberi cara penyelesaian. Huh, menurutku, ini sama saja dengan soal uraian. Bila jawaban di pilihan ganda benar, tapi cara penyelesaiannya salah atau bahkan tidak ada, itu akan dianggap salah :( Menyebalkan bukan? Materinya sulit, menconto pun tidak bisa, haha. Kami harus menyiapkan 2 lembar kertas folio untuk mengerjakan sekitar 25 atau 30 soal yang njelimet. Bahkan waktu 2 jam pelajaran tidak cukup bagi kami untuk menyelesaikan soal-soal itu. Kami kerap memakan jam istirahat untuk menyelesaikannya. Tidak heran, tiap kali ulangan kimia, kepala akan akan menyembulkan asap tipis tak kasat mata. Huhuhu, UTS (Ujian Tengah Semester) kemarin, kami juga harus menggunakan metode yang sama untuk mengerjakan ujian, padahal soal kami juga sama dengan kelas lain. Dan yang membuat soal adalah Pak Heli  -_-. Untungnya, UAS (Ujian Akhir Semester) tadi, bu Erni berbaik hati untuk memberi kami keringanan. Kami tidak harus memberi penyelesaian seperti biasanya, hanya memilih pada pilihan ganda :). Meskipun begitu, aku mengerjakan sebisaku, hahaha mau bagaimana lagi? Sudah menyelundupkan kalkulator, tapi lupa rumusnya, percuma kan? :p
Setelah pemanasan dengan soal kimia, aku dihadapkan pada soal remidi matematika. Iya, aku remidi, materinya trigonometri. Iya, yang kemarin ku ceritakan itu. Kau tahu ada berapa kode soal? Enam kode soal! Aku benar-benar tidak paham denagn materi yang satu ini. Sama sekali. Ada 4 soal, soal nomer 1, aku tahu rumusnya B-) tapi tidak tahu penyelesaian akhirnya -_-. Aku bisa, dan sudah pasti benar :). Soal nomer 3, sama dengan nomer 1. Soal nomer 4? Mati. Tidak paham dengan soalnya :(. Empat soal, yang sudah pasti benar hanya satu, yang sudah pasti salah sudah satu, yang dua masih ambigu.
Aku pasrah. Yang pasti, semalam aku belajar :)

Aku tidak tahu apa


.

Malam ini aku belajar. Belajar dengan ikhlas dari hati dengan keinginan sendiri tanpa komando. Aku hebat dong ya, hehe :')
Aku punya semangat sekarang. Entah karena apa atau siapa. Mungkin karena sudah bosan seperti ini.

Em, aku ingin bercerita, tapi tentang apa? oh ya, apa aku pernah bercerita tentang seseorang yang aku kagumi selama satu tahun ini? Tidak perlu tahu siapa namanya. Kita sebut saja dia Mr. X. Aku sudah sering bertemu dia sebelumnya, tapi tidak tahu sejak kapan, di momen apa dan kapan tepatnya, aku mulai memperhatikannya. Diam-diam memperhatikan, sebatas itu saja. Waktu cepat berlalu ya ternyata. Bahkan aku sempat lupa dengan kekaguman itu beberapa waktu lalu, tapi akhir-akhir ini perasaan itu kembali. Bukan, bukan cinta, lebih tepatnya, aku tidak tahu :). Selama ini aku hanya mengaguminya, tidak lebih. Aku bahkan tidak tahu kenapa, bukan karena fisik, mungkin karena sikapnya.
Ah, sudahlah, jangan membicarakan dia. Toh, aku sudah tahu akhir dari kisah ini. Sad ending, selalu begitu. Meskipun memang aku sendiri yang menentukan akhirnya, tapi aku tidak pernah bisa memaksa :')

Hah, kenapa jadi mellow galau gini? Semangat! Kimia dan Trogonometri siap mengajak bertempur besok.

Beban Dipundakku


.

13 Desember 2012

Setelah bangun tidur pagi ini, aku merasa enteng, entah kenapa. aku hanya merasa beban di pundakku sedikit berkurang :)
Semangaaaaaat! Ya, harus semangat, itu yang ku pikirkan. Bahkan aku meneriakkan kata itu ditelinga Putri, teman sekelasku tadi pagi. Hahaha, sudah lama tidak seperti ini. Tertawa untuk diriku sendiri.
Tapi, aku mulai merasa menjadi pecundang (lagi) saat beberapa teman meledekku karena nilaiku matematika -trigonometri- yang jeleknya keterlaluan. Nilai 8, apa yang bisa ku harapkan dari nilai itu? Hem, bukan 80, tapi 8. iya, hanya 8. Ya, aku tahu. ini salahku sendiri, kenapa tidak berusaha untuk meminjam buku agar bisa belajar, sudah tahu bukunya hilang, tapi aku tidak berbuat apa-apa. aku hanya mengeluh.
Hah, kejengkelanku muncul saat beberapa teman dari kelas lain me-nyoak-ku karena nilai matematikaku. Apa-apaan ini? darimana mereka tahu. kata mereka, berita ini memang sudah menyebar. Arrrrrgh! aku malu :(
Dan ternyata yang menyebar luaskan berita itu adalah Rizky. Aku marah padanaya.
"Lha wong aku di soak gara-gara aku dapat nilai 10 kok Lin, ya wis to aku ngomong, teman sebangkuku nilainya lebih parah. terus mereka tanya, lha siapa? Yo tak jawab to, Alin,"
Seharian itu tadi, aku tidak mau berbicara dengannya -_-
Kejengkelan kedua muncul saat aku harus menemui kepala sekolah baruku, Drs. Sigit Harsono, M.Pd.. Arrrgh, orang ini menjengkelkaaaaaaaaaan. Husst, ini rahasia ya :). Tapi aku benar-benar tidak habis pikir denagn pola pikir orang ini. Mbulet!
Keluar dari sarang singa, aku menuju ruang Osis. harusnya saat itu ada rapat. Tapi, saat aku, Gilang dan Priya kesana, rapat sudah bubar. Aku bingung, padahal kan si ketua Osis-nya saja baru datang. hah, firasatku benar kan, ada masalah. Yeni, ketua Mpk, marah besar, aku tidak tahu kenapa. yang pasti dia marah.
Aku, Gilang, Priya, dan Dimas tidak langsung pulang. kami berempat tidak tahu apa-apa tentang rapat tadi. Intinya, gara-gara berbicara dengan mereka bertiga, sekarang aku galau lagi. Hiks. Aku dianggap dan memang sekarang aku pun merasa terlalu mendominasi di organisasi ini. tapi, mau bagaimana lagi, memang sudah begini dari awal. Hei, aku juga menyadari satu hal. aku tidak bisa mempercayai orang lain sehingga aku harus mengerjakan apa pun sendiri. Padahal, aku sering memberi masukan pada orang lain untuk tidak begitu, tapi aku sendiri begitu. Harus bagaimana aku?

Lalu pundakku kembali berat.

12-12-12


.

nothing special.

Hari ini, maunya jadi hari pembebasan dari segala beban masalah. maunya.

Surat pengunduran diri


.

Semalam, aku menyatakan kemunduranku pada Gilang, ketua OSIS-ku.

Kau bertanya kan, apakah aku tidak terlalu loyal di organisasi ini?. kau tahu, sebenarnya aku jenuh. aku capek. aku sadar bukan hanya aku yang capek. kau juga, Yeni juga. tapi aku berbeda, kalian berbeda. kalian ada dalam dunia kalian. Yeni memang menginginkan Ips, sedang kau Ipa.
aku sudah berubah. OSIS memang pelarianku dari kejenuhanku di dunia yang sekarang ku selami. tapi aku tidak bisa selamanya begini kan? Aku lelah menghindar dari tuntutan orang tuaku. mereka hanya ingin aku jadi anak yang rajin, itu saja. Dulu, aku dianggap pintar, bahkan aku sendiri menganggap begitu. tapi sekarang? aku menjadi pecundang dikelas. yang tidak pernah mendengarkan penjelasan guru. didengarkan pun percuma, akan menguap lagi.
Mungkin, memang sudah saatnya aku memaksakan diri untuk menjadi anak pintar lagi.
Tapi aku bingung, apa yang harus ku lakukan. aku mempunyai kewajiban menuruti orang tuaku sebagai anak, aku mempunyai kewajiban belajar dengan sungguh-sungguh sebagai siswa, dan aku mempunyai kewajiban sebagai co. ppas dalam kepengurusan OSIS. aku lelah di protes. oleh kakak kelas dan lain sebagainya. mereka menuntut, mereka menekan. tanpa mempedulikan bagaimana keadaan kita. aku lelah. aku tahu kau pun begitu.

Siang tadi, ku serahkan surat pengunduran diriku. apa sudah kau baca? kau tidak membalas pesanku. Yeni juga menghilang. surat itu, aku bingung harus menulis apa. di dalamnya hanya ada kertas kosong. kosong tidak pernah kosong. surat pengunduran diri itu kosong. aku hanya tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku. aku tidak bisa meninggalkanmu dan Yeni karena pasti aku akan dibunuh oleh Yeni :p. mungkin juga akan mutilasi oleh mbak Nadhia dkk -_-

Surat pengunduran diriku kosong, terserah mau diartikan apa. yang pasti aku hanya tidak bisa menulis 'aku mundur'. Apa surat itu anda setujui pak ketua OSIS? :)

Tersesat


.

Aku tersesat, aku mencoba menyelam namun tenggelam. Ini bukan duniaku. Ini aku yang bukan aku.Sekarang aku disini, tenggelam. menganggap seolah-olah aku bagian mereka, padahal aku terselubungi oleh selaput tipis tak kasat mata. mereka mengeluh tentang aku, dan aku tahu itu. aku harus bagaimana? sudah terlambat untuk kembali kepermukaan, aku sudah tenggelam.

aku pecundang.

Sastra, Aku, Bapak, OSIS


.



Ini tentang aku dan tiga postingan terakhirku.
Surat untuk Pak Dad itu bukan suratku yang pertama, tapi itu yang pertama ku ikutkan dalam sebuah lomba. Aku sedukit kecewa, aku terlalu ceroboh. Sudah sangat jelas bahwa persyaratannya ‘Guru harus berdomisili di wilayah Bojonegoro’, eh aku mengirim surat untuk guruku yang berdomisili di Jatirogo-Tuban, hehe. Dan ternyata, Pak Praw (Guru Jurnalistik-ku) merupakan salah satu juri untuk lomba ini. Menurut beliau, seharusnya suratku ini mendapat juara dua, tapi karena tidak memenuhi persyaratan, akhirnya dianulir menjadi surat pilihan. Huh, penyesalan selalu datang diakhir ya.
 Selanjutnya, puisi itu. Yang telah membawaku ke FLS2N tingkat provinsi 2k12. Itu salah satu hal yang menggembirakanku. Tapi bukan itu yang paling menggembirakan, karena yang paling menggembirakan adalah ini untuk pertama kalinya Bapak dan Ibuk memuji tulisanku. Dengan ini, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mendukungku untuk menggeluti dunia tulis-menulis. Tapi sayangnya, saat itu aku gagal di tingkat Provinsi. Hah, aku menangis saat itu.
Entah beberapa minggu setelah itu, aku bertengkar hebat dengan Bapak. Ibuk hanya meng-iya-kan Bapak, tidak membelaku. Sedangkan saat itu, aku tersudut sendirian. Aku hanya ingin berada di kelas Bahasa, itu saja. Kenapa Bapak harus semarah ini? Bapak ingin aku masuk Ipa. Aku menolak. Kau tau, sepintar apa pun aku dalam hal berdebat, aku tetap akan kalah jika berdebat dengan Bapak. Tapi kala itu aku berontak. Dan Bapak memberiku persyaratan: Jika aku tetap ingin berada di kelas Bahasa atau Ips, aku harus keluar dari kepengurusan OSIS. Aku tidak bisa melakukan ini. Aku memilih Ipa.
Seperti kata Kugi dalam Perahu Kertas, aku harus berputar, menjadi orang lain untuk kemudian menjadi diriku sendiri.
Aku mengisi angketku. Pilihan pertama jurusan Bahasa, pilihan ke dua jurusan Ips. Aku berpikir, orang tuaku tidak akan tahu. tapi pada akhirnya mereka harus memang harus tahu. Sebelum Ulangan Akhir Semester Genap tahun lalu, bu Septi, salah satu guru BK di SMAdaBo memanggilku. Saat itu, aku bertanya-tanya, kesalahan apa yang aku lakukan? Dan ternyata, aku memang tidak melakukan kesalahan. Beliau hanya memintaku mengganti angket penjurusan, tahun ini kelas Bahasa akan dihapus karena peminatnya hanya dua orang. Tidak ada yang bisa ku katakana. Aku menyerah. Aku tidak mungkin keluar dari kepengurusan OSIS. Ku putuskan untuk menuruti Bapak.
Liburan Semester Genap saat itu, aku mendapat kabar bahwa aku mendapat juara 3 dalam ajang lomba essai se-Bojonegoro. Hadiahnya lumayan, 1 juta. Orang tuaku tahu, sekarang mereka paham bahwa duniaku memang tulis menulis, bukan Ipa. Tapi, kenapa saat orang tuaku sudah memahamiku, kelas bahasa justru ditiadakan?
Kecewa.