Akhir Perjalanana Sepotong Rindu


.



Lanjutan dari Perjalanan Sepotong Rindu

Terperangkap pada sebuah lorong waktu, pengap. Ini membosankan membolak balik ingatan pada kejadian yang sama. Aku mencari pintu mesin waktu dan menemukan diriku berada dalam dimensi yang entah apa namanya. Disini kosong, seperti berada dalam sebuah studio yang seluruh permukannya berwarna putih. Terkesan hampa, tapi tidak. Hukum fisika yang mengatakan bahwa udara memenuhi ruangan masih berlaku pada tempat ini. Dan karena kekosongan ini, aku jenuh.
Berusaha mengendalikan mesin waktu kembali. Ya, karena aku adalah seorang pengendara waktu. Menjelajahi waktu demi waktu di masa lalu demi menemukan sesuatu, yang pada akhirnya memang ku temukan. Bahkan telah berhasil kuabadikan di dalam sebuah toples kaca. Tapi ini menjadi tidak menarik ketika aku bisa melihatnya setiap hari. Melihatmu dan aku, atau yang dulu kau sebut kita, dalam kemasan masa lalu.
Mesin waktu ini rusak, mungkin perlu beberapa waktu untuk memperbaikinya. Dan yang bisa memperbaikinya hanya pengendara waktu itu sendiri, aku. Ini adalah pertama kalinya dalam satu tahun aku menjabat sebagai pengendara waktu. Selama ini, aku telah berputar-putar mengulangi masa ke masa yang sama. Terjebak di beberapa dimensi yang sama dan sayangnya tidak tahu bagaimana cara untuk keluar. Terperosok pada dimensi lain seperti ini sebenarnya membuatku sedikit senang. Setidaknya, ada warna lain yang dapat kusaksikan. Tapi kemudian, berdiri disini sendirian dalam kekosongan juga membuatku tersadar bahwa ini bukan tempatku.
Sekarang aku rindu, pada keadaan dimana aku merindukanmu. Masa lalu membuatku terus melihatmu, hingga aku tidak mengetahui hal lain. Kalau begini, ternyata kau juga berkamuflase menjadi makhluk membosankan dimataku.
            Perjalanan sepotong rindu-ku, berakhir disini. Pada sebuah waktu yang disebut ‘sekarang’ dan ingin menjajaki waktu bernama ‘masa depan’.





Menemukan,
14 Februari 2013

SKENARIO TUHAN


.



Saat melarikan diri selalu menjadi pilihan terakhirku.

            Satu tahun lalu, Tuhan dengan segala kesengajaannya mempertemukan kita di sini. Ketika itu, kamu tengah menggantikan Mrs. Dina yang sedang cuti melahirkan. Kamu mengajar bahasa Inggris ditempat kursus ini untuk sementara.
            Perasaan senang tergambar jelas pada sebagian besar siswa kursus, yang mayoritas perempuan. Bagaimana tidak, ketika tutor yang dianggap ‘musuh’ sedang cuti, mereka malah dihadiahi tutor pengganti yang nyaman untuk diamati. Ah, ketika mata melihat pemandanagn indah, hati juga akan turut merekah, bukan? Maka dari itu, kelas kursus bahasa Inggris yang biasanya menjadi sasaran untuk membolos bagi teman-teman, sekarang hampir selalu terisi penuh.
            Ganteng, berbakat dan kelihatannya masih muda. Ya, siapa siswa yang tidak mengangumimu dikelas ini kala itu? Kecuali aku dan mungkin beberapa anak laki-laki yang malah merasa risih karena takut tersaingi. Pada pertemuan pertama saja, kamu sudah merenggut begitu banyak perhatian dari mereka. Ah, mungkin aku juga akan begitu kalau saja wajahmu tidak teramat ‘China’. Mata sipit yang khas dan kulit putih itu justru membuatku tidak tertarik.
            Pada pertemuan kedua, aku mendengarkan segerombol anak perempuan membicarakanmu. Mereka bilang, kamu bahkan masih seorang mahasiswa. Tapi, kamu sudah dipilih untuk menjadi tutor pengganti ditempat kursus sebesar ini. Hebat. Ada sedikit kekaguman yang menelusup pada diriku. Hanya sedikit. Boleh dibilang, ini diskriminasi terhadap orang China. Entah kenapa, aku sendiri tidak tahu. Aku hanya tidak terlalu suka dengan orang China, itu saja. Maaf bila saat itu aku terlalu menghakimi ras-mu.
            “Pak Michael kok lama ya?” Linda yang duduk dibangku paling depan mengeluh. Beberapa anak tampak cemas karena kamu tak kunjung menampakkan batang hidung.
            “Alah, biasanya kalau tutor telat senengnya minta ampun, sekarang pakek ngeluh segala!” sebuah ungkapan jujur keluar dari mulut Roni.
            “Huuuuu, yang ini beda tauk! Special pakek telur!” balas Linda dan gerombolannya.
            Aku hanya diam menyaksikan teman-temanku adu mulut. Rasanya tidak terlalu penting untuk ikut terlibat didalamnya.
            Seseorang yang ternyata kamu membuka pintu, membuat ruangan seketika hening. Kamu menyampaikan penyesalan atas keterlambatanmu. Dan seluruh siswa kompak memafkanmu.
            Sebenarnya aku benci bahasa Inggris. Tapi mau bagaimana lagi, bahasa Inggris sudah termasuk dalam salah satu pelajaran dipaket kursus yang diambil oleh Ibu untukku. Biaya kursus yang tidak murah memaksaku untuk tetap masuk dan tidak membolos sebagai tanda penghormatan padanya.
            Kamu sedang menjelaskan, aku lebih suka menggambar dari pada memperhatikan. Sialnya, kamu menyadari hal itu.
            Hei, you. Can you answer the question?”
            Kamu mengarahkan pandangan padaku. Aku menoleh kebelakang, memastikan siapa yang sedang kamu ajak bicara.
            “Yang saya maksud kamu, cewek yang pakai jilbab.” Katanya menegaskan.
            Ini adalah pertama kalinya aku menyadarai bahwa akulah satu-satunya perempuan berjilbab kelas kursus ini. Dengan ragu aku bertanya, “Me?”
            “Yes you. What’s your name?”
            “Liana,”
            Mulai dari situ aku menjadi benar-benar membenci keturunan China. Kamu membuatku ditertawakan oleh seluruh penghuni kelas. Menyindirku dengan mengatakan, ‘Kalau ikut kursus ini berarti mau belajar bahasa inggris. Kalau mau jago gambar ya kursus menggambar saja!’. Dan seperti orang yang mempunyai mainan baru, kamu selalu menjadikanku sebagai bahan tunjukan dan pembicaran dikelas.
            Hah, kelasmu semakin menyebalkan bagiku. Semakin banyak dorongan dan godaan untuk tidak mengikutinya. China sipit seperti kamu, yang sebenarnya cukup tampan dan pantas dikagumi, kenapa bisa se-menjengkelkan itu. Bahkan aku berdo’a agar Mrs. Dina segera kembali. Walaupun orangnya menyeramkan, tapi toh beliau tidak pernah menyudutkan salah satu muridnya.
            Hari berganti, aku masih membencimu. Sampai kita dipertemukan lagi oleh Tuhan pada dunia lainnya, dunia maya. Kamu lebih menyenangkan disini, tapi masih menyebalkan didunia nyata. Lewat percakapan-percakapan singkat kita, aku mulai mengenal kepribadianmu. Kamu sempat meminta maaf karena selalu membuatku seolah menjadi pupuk bawang dikelas. Aku mulai paham, itu adalah salah satu caramu untuk membuat teman-teman dikelas menyukai pelajaranmu dan agar aku mau belajar. Pada akhirnya tokohmu menjadi sosok baik dimataku. Perlahan-lahan, aku tidak peduli pada wajah China-mu.
            Kedekatan kita semakin nampak. Tidak ada yang menyadari itu ditempat kursus, lagi pula sejak awal aku memang yang paling dekat denganmu disana. Tentu saja, karena kamu selalu memilihku untuk  menjawab soal. Tapi diluar itu, kedekatan kita bukanlah kedekatan seorang totur dengan muridnya, ini lain. Apalagi tak lama setelah itu, kamu sudah tidak menjadi tutorku lagi. Kita resmi mempunyai gelar yang orang sering bilang; Pacar.
            Tapi aku mulai meragu. Saat menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah ku sadari sejak awal. Kita sama-sama mempercayai bahwa Tuhan hanya satu, tapi kita mempunyai Tuhan yang berbeda. Kamu China! Yang setiap minggu pergi ke gereja.
            “Aku tidak bisa. Ibu melarangku berpacaran denganmu,” sambil berbicara, aku tidak berani menatap matanya.
            “Kenapa?”
            “Karena kamu China, karena kamu ke gereja.”
            “Lalu kenapa? Karena kamu ke masjid? Karena kamu wanita Jawa?”
            “Ya.” Aku tidak pernah suka berdebat. Kamu tahu itu.        
            “Ada banyak sekali pasangan seperti kita diluar sana. Dan mereka masih baik-baik saja, kenapa kita harus mempermasalahkan?”
            “Karena mereka bukan kita!” cairan bening mulai menghiasi mataku. “Aku mau pulang,”.
            Kamu tidak menahanku. Membiarkanku meninggalkanmu ditaman kota sore itu. Dan setelahnya, kita tidak berhubungan.
            Dua minggu setelah kejadian menyakitkan itu, kamu berkunjung di rumahku. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan. Padahal kamu jelas tahu bahwa Ibuku tidak menyukaimu, tapi kamu tetap melakukannya. Beruntung, Ibu tidak bilang apa-apa saat kamu memintaku untuk menemanimu menikmati senja, sedang aku menurut saja.
            “Em, kamu kok gak ke gereja?” sedikit takut, tapi aku memutuskan untuk bertanya.
            “Aku tidak beribadah di gereja lagi.” Ucapmu enteng.
            Aku terbelalak. Bingung. Tidak begitu paham dengan maksud dari ucapanmu.
            “Maksud kamu tidak beribadah di gereja lagi?”
            “Kamu tidak bisa dengan orang yang kegereja. Jadi aku mempelajari agamamu. Tuhan kita satu, sekarang.”
            Aku tidak berkomentar, kamu tahu aku keget sehingga kamu pun membiarkanku diam. Keinginan kita berdua untuk bersama sekarang terwujud akibat pengorbananmu.
            Di masa itu, kita bahagia. Tidak ada lagi keraguan yang mengambang diotak dan hatiku. Ini bertahan untuk beberapa minggu. Sampai pada suatau minggu yang teduh, kamu merusak segalanya. Menunjukkan padaku betapa tidak konsistennya dirimu. Mempermainkan aku, bahkan Tuhanmu. Aku melihatmu sedang merapatkan tangan, dibawah patung Yesus yang disalib. Kamu  bahkan masih ke gereja.
            Tidak masalah apa pendidikanmu, pekerjaanmu, tapi ini masalah yang menyangkut Tuhan. Fatal. Pada titik itu, aku mulai goyah pada keyakinanku.  Ketika Tuhanmu dan Tuhanku, sepakat untuk mempertemukan kita, sudah ada scenario dibaliknya. Dan aku memilih untuk melarikan diri, bersembunyi darimu. Menghindari perdebatan tentang Tuhan yang harusnya tidak pantas kita lakukan.



15 Maret 2013
Untuk Alifa Rahmadia Putri

Ikan badut kecil


.

Untuk Langit yang damai.
Hai Langit, apa aku membuatmu khawatir? aku tidak apa-apa kok :)
Kau tahu, aku sudah genap tujuh belas tahun bernafas. Tujuh belas tahun merupakan titik balik dari sifat labil remaja menuju ke sifat dewasa. Aku sudah memikirkan ini.
Aku memikirkan tentang ikan. aku ini lebih bodoh dari ikan badut yang bodoh Ngit. Sebodoh-bodohnya ikan, dia akan melepaskan kail umpan jika si pemancing tidak kunjung menariknya. nah, aku manusia Ngit, aku seharusnya sudah menyadari itu sejak lama ya, tapi aku malah menikmati terombang ambing bersama kail yang umpannya sudah ku makan tapi si pemancing tidak menariknya.
Hahhh.. Tapi sekarang aku paham Ngit, percuma saja jika aku tetap mempertahankan berada di kail itu, padahal umpannya sudah tak ada. pemancingnya pun tidak mau menangkapnya. Lebih baik, aku melepaskan aku melepaskan kail itu sekarang. toh, bila suatu hari si pemancing datang lagi dan memasang umpan, aku juga akan tetap mendekat (seperti layaknya seekor ikan). dan aku akan menunggu pemancing menariknya.
Dari aku, yang kadang menjadi ikan badut kecil.

Tujuh Belas


.

Ini hari pertama, iya. hari pertamaku dengan embel-embel orang dewasa, he-he.. aku sudah tujuh belas tahun. Memang, terhitung dari kemarin, 21 Februari 2012. tapi, sebenarnya aku lahir pada sekitar pukul 9 malam, jadi menurutku, ini hari pertamaku sebagai anak yang sudah pantas dibilang dewasa.
Tidak ada yang spesial untuk tahun ini kecuali aku sudah bisa buat KTP :D. Emmm, telur yang mendarat dikepala seperti biasa, dan tekanan minta traktirdari teman-teman. Hee, aku bokek lhoooo :( kapan-kapan saja ya..
Terimakasih untuk orang-orang yang sudah memberi selamat. Untuk Ibuk yang selalu ingat. Untuk Rama yang bahkan jauh-jauh hari sudah mengirimkan do'a. Untuk Atma yang menjadi orang pertama (tanggal 21), untuk Cacing alias Caca yang sebenarnya pengen jadi yang terakhir ditanggal 21 tapi malah ketiduran, untuk Langit yang hari ini cerah.
Untuk beferly dkk makasih telurnya. Yeni makasih udah disuruh jalan dari masjid ke rumah -_-
Terimakasih semua :)
Terutama Allah yang masih memberiku hidup :*

Keinginan Sederhana


.




Tidak kurang dari setengah jam sudah aku di sini, disudut sebuah cafe bergaya klasik. Dimeja nomer lima yang menyediakan dua kursi untuk pengunjungnya. Satu kursi menghadap ke sebuah pojom akustik, dan satu lagi menghadap tepat ke kaca jendela depan yang memberi sedikit gambaran tentang hiruk-pikuk kota. Aku duduk menghadap jendela, agar aku dapat melihat sdiapa yang akan singgah dicafe ini.
            Seorang wanita muda, yang memekai kemeja putih dan rok hitam mendatangiku untuk kesekdian kalinya, dengan tujuan menanyakan apa yang ingin aku pesan. Mungkin sudah empat kali aku menjawab pertanyaan wanita berperawakan kurus ini dengan kalimat sama, “Nanti dulu, saya masih menunggu teman”. Dan kini wajahnya mulai masam karena bosan. Melihat itu, aku memutuskan untuk memesan sesuatu. Dan pilihanku jatuh pada secangkir capuccino yang berada pada urutan keempat didaftar minuman.
            Dia mencatat lalu menambahkan, “Ada yang lain?”
            “Tidak, terima kasih,” jawabku seraya tersenyum padanya. Merasa sedikit bersalah karena membuatnya kesal.
            Semilir angin menyentuh pori-pori, menyejukkan. Aku masih menunggu, menunggu yang ku tunggu. Tidak lama, secangkir capuccino hangat mendarat dimejaku. Kali ini, bukan wanita tadi lagi yang mengantarkannya, sudak ku katakan bahwa dia bosan.
            Belum juga sempat ku sentuh si capuccino, seorang priya yang sedang memarkir vespa merahnya menyita pandanganku. Seorang priya bermata sipit, karismatik. Poninya yang dibdiarkan memanjang sampai menyentuh alis, membuatnya terlihat tampan. Aku memandangnya memasuki cafe ini. Berjalan dengan sedikit tergesa-gesa menuju meja yang aku tempati.
            “Aku terlambat ya? Maaf tadi si Flo mogok lagi, kamu pasti sudah lama menungguku,”  celotehnya sambil menunjuk kearah Flo, vespa merahnya, barang antik yang suadah pantas dimasukkan kemuseum.
            “Tidak, belum lama,” jawabku sedikit berbohong. Ah, bukan sedikit, aku memang berbohong.
            Priya yang selalu mengenakan jaket abu-abu ini bernama Candra. Priya pertama yang membuat cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Yang bisa mencintaiku dengan tulus, dan membuatku percaya akan adanya keajaiban. Ya, keajaiban. Bagaimana tidak? Candra adalah salah satu makhluk berpredikat sempurna dan tergolong langka dimata para wanita, khususnya disekolahku. Aku sempat ragu untuk menjalin hubungan dengannya, namun dia meyakinkanku. Sudah hampir satu tahun kami menjalin hubungan. Sudah banyak pula badai yang menerpa. Mulai dari sikap para fans fanatiknya yang menentang keras hubungan kami, sampai teror-teror yang ku alami. Tentu saja mereka merasa ini tidak adil, Candra lebih memilih aku. Dan sdiapa aku? Hanya seorang gadis kecil buruk rupa yang bahkan tidak pernah berani bermimpi untuk mendapatkan cinta sang pangeran. Rasanya seperti kisah dalam dongeng yang teradaptasi dikisah nyata. Berlebihankah ini? Ku rasa aku memang melebih-lebihkan. Tapi memang begitu adanya.
            Sore ini, dia memintaku untuk datang kecafe yang bukan langganan kami. Aku tidak tahu ng bangunan ini. Aku memang suka bangunan bergaya klasik, seperti cafe ini.
            Tanpa kusadari, sedari tadi Candra tengah menatapku lekat-lekat. Mata teduhnya menelusup dalam. Tidak pernah sedalam ini sebelumnya.
            “Cafe ini bagus. Bergaya klasik modern, aku suka,” aku yang mulai salah tingkah mengemukakan pendapat tanpa diminta.
            Namun ekspresi Candra masih sama. Usahaku untuk mengalihkan perhatdian sdia-sdia belaka.
            “Eh, kenapa? Ada yang salah denganku?” tanyaku akhirnya, penasaran.
            “Bukan,” jawabnya singkat. Masih memandangku, tapi kali ini dia membubuhkan senyum pada pandangannya, hangat, tulus. Yang justru membuatku semakin gugup.
            “Lalu kenapa menatapku seperti itu?”
            “Em, bagaimana aku mengatakannya?”  tanyanya semakin membuatku bingung.
            “Katakan saja, ada apa?”
            Dia meraih tanganku dan berkata, “Na, maafkan aku.”
            “Maaf? Kenapa minta maaf?”
            “Jangan mencintaiku lagi...” kalimatnya mengambang.
            Blam! Seperti ada pesawat tempur pengangkut bom nuklir yang mendarat kritis dihatiku. Bukan, bukan mendarat kritis, lebih parah, pesawat itu jatuh dan meledak. Membuat seluruh dasar hatiku hancur olehnya. Raddiasi nuklir pun telah menjalar sampai keotakku, sehingga aku tidak bisa berpikir lagi, apa maksud perkataan Candra tadi. Ku harap raddiasi nuklir telah merusak saraf pendengaranku, sehingga aku menjadi salah dengar. Tapi tidak, bom nuklir ini jatuh setelah aku mendengar pernyataan itu dari Cadra bukan sebelumnya.
            “Mungkin kamu binggung, tapi ku mohon lupakan aku, berhentilah mencintaiku. Kamu terlalu baik untukku. Terlalu baik...,” lagi lagi dia menggantungkan ucapannya.
            “Tidak, tapi kenapa begitu?” tanyaku.
            “Sudah ku katakan, kamu terlalu baik. Terlalu naif. Maafkan aku, karena selama ini bersandiwara, ku katakan aku cinta kamu, tapi tidak. Aku hanya..., hanya ingin melihat orang sebaik kamu bahagdia. Tapi ternyata aku salah, jika aku meneruskan sandiwara ini, kamu akan semakin terluka, terluka oleh cinta palsuku. Maafkan aku. Carilah orang yang benar-benar mencintaimu. Hiduplah dengan bahagdia agar aku tidak terpuruk dalam rasa bersalahku,” jelasnya yang semakin membuatku sesak.
            “Tapi aku bahagdia bersamamu,” ucapku dalam hati, tak kuasa mengatakannya. Karena cairan bening sudah terlanjur memburamkan pandanganku, sdiap untuk meluncur turun.
            Aku mencintainya, dan ku kira dia pun begitu. Aku menyukainya, segala tentangnya. Aku suka caranya tersenyum hangat padaku, aku suka bila mata teduhnya menatap mataku, aku suka saat dia mengacak rambutku meyatakan dia menyayangiku. Aku ingin bersamanya, tidak ingin melepaskannya.
            Aku tidak mengerti ini. Semua ini. Cinta adalah hak setiap orang. Mencintai dan dicintai. Tapi kenapa tidak ada yang tulus mencintaiku? Bila begini, masih harus percayakah aku pada keajaiban? Benarkah begitu? Jika ya, jika memang harus. Baiklah, namun perbolehkan aku sekali saja meminta sesuatu. Sebuah keinginan sederhana. Ijinkan aku untuk menjadi manusdia yang lebih egois lagi dari sekarang. Hanya itu.
            “Pergilah bila kamu memang ingin pergi, hiduplah dengan bahagdia, jangan terpaut pada rasa bersalahmu terhadapku. Jangan meminta maaf lagi, karena aku sudah memaafkanmu. Tapi..,” kini ganti kalimatku yang mengambang, rasanya sulit sekali untuk melanjutkan.
            Hening menyapa, kami berkelana dalam pikran dan hati masing-masing.
            “Tapi... bdiarkan aku tetap mencintaimu,” lanjutku memecah ddiam.
            “Nana.. Please..,” nada bicaranya mengisyaratkan bahwa dia tidak menghendaki hal tersebut.
            Tertunduk, aku berkata, “Hanya itu, ya, satu keinginan sederhanaku. Tetap mencintaimu.”
            Karena Tuhan tidak mengijinkanku untuk menjadi manusdia yang lebih egois lagi. Cukup, sudah cukup. Hanya mencintaimu, egois kah aku bila seperti ini? Tidak. Karena cinta adalah hak setdiap manusdia, tanpa terkecuali. Dan itu tidak dapat dipakasakan. Aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku, begitu pula sebaliknya, kamu tidak bisa memaksaku untuk berhenti mencintaimu.
            “Kadang, apa yang kita kira tidak berjalan dengan lancar justru terlihat sempurna dimata sang pencipta. Ya, aku paham, dan aku mengerti,” kataku lebih kepada diriku sendiri. Mencoba mengusir kepedihan.
            “Maaf..,” sambil melepaskan genggaman tangannya dariku, dia mengucapakan kalimat itu lagi, semoga ini yang terakhir kali.
            Kemuddian dia pergi, meninggalkanku bersama secangkir capuccino hangat yang sudah tidak hangat lagi.

Perjalanan Sepotong Rindu


.


Ini tulisan lama

                Waktu akan terus melangkah, tanpa peduli bagaimana manusia menyikapinya. Entah itu menyusuri jejak langkahnya atau bahkan diam ditempat dan membiarkan dirinya sendiri terpenjara oleh suatu waktu bernama ‘masa lalu’.
                Manusia tidak akan pernah bisa menjerat masa lalunya. Kemudian, menyimpannya dalam sebuah toples bening agar bisa dinikmati setiap hari. It’s impossible thinks.
                Begitu pula aku yang beberapa waktu lalu kehilanganmu. Ah, memori-ku akan menjadi seperti terserang virus bila itu tentangmu. Melupakan sosokmu adalah hal mustahil yang tidak akan ku lakukan. Tapi untuk saat ini, otakku sedang error. Seolah ada yang memformat habis semua tentangmu. Senyummu, wajahmu, suaramu, semua hilang. Semua hal yang tidak ingin ku lupakan. Hal-hal yang ingin tetap ku simpan sekalipun waktu meninggalkanku. Namun semua terbakar oleh kebiasaan yang menciptakan kebutuhanku akanmu. Yang kini mengharuskanku untuk terus mencarimu. Aku merindu.
                Sepertinya, aku akan gila. Tidak, aku memang sudah mulai gila sejak mengenalmu. Melibatkanmu dalam setiap unsur diriku, membuatmu menjadi teramat penting. Menobatkanmu sebagai oksigen yang memenuhi paru-paruku. Kau itu candu, yang sudah terlanjur kukonsumsi dan berakibat fatal dalam hidupku. Kau mencandu, aku kecanduan. Aku membutuhkanmu.
                Mungkin, aku tidak akan seberani ini. Menyatakan bahwa kau oksigen-ku. Jika saja kau tidak memintaku untuk merubah sebutan kau dan aku menjadi ‘kita’, aku tidak akan seberani ini.
                Ini adalah sebuah pengakuan yang seharusnya memalukan bila dilakukan oleh orang yang waras.tapi saat ini aku sedang gila karena kau menjelma menjadi narkoba yang meracuni pikiranku.
                Aku merindukanmu sepanjang waktu. Memikirkanmu bahkan saat kau ada bersamaku.
                Sekarang, aku sudah benar-benar lupa bagaimana wajahmu. Walaupun berlembar-lembar foto yang kata orang adalah kau telah kupandangi, aku tetap lupa.
                Kebutuhan akanmu semakin menekanku untuk menemukanmu. Sebenarnya, kau dimana? Kenapa menghilang? Kau menyiksaku!
                Kau sangat menyebalkan. Meninggalkanku sepertin ini, membuatku susah untuk bernafas. Nafasku sudah lelah. Aku harus menemukan oksigen-ku. Dan ketika pada titik ini aku tetap tidak bisa menemukanmu, aku akan membangun kembali sebuah ketidak mungkinan yang akan kupelihara sebagai harapan. Dapan mengemasmu dalam balutan masa lalu kita dan menyimpannya pada sebuah toples bening. Aku bersedia terikat pada masa lalu.
                Rinduku masih menjajaki waktu untuk menemukanmu.


Berusaha menemukanmu,
14 Februari 2012